Opini

Ngaji Sejarah: Tanah Air Puisi

Home / Opini / Ngaji Sejarah: Tanah Air Puisi
Ngaji Sejarah: Tanah Air Puisi Ach Dhofir Zuhry (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESSORONG, JAKARTA – Di tengah kesibukan mengajar dan berpikir, beberapa bulan belakangan, saya cenderung agak berkeringat menjelang pagi lantaran berusaha mencari makna Indonesia, bukan dari gejolak Medsos yang palsu dan menipu, juga bukan dari gelegak diskusi, dari (tata) buku klasik, apalagi kontemporer. 

Saya terus mencari makna itu pada mantra-mantra sunyi, pada karmina dan pantun-pantun sepi, pada gurindam-gurindam yang mungkin mengeram di balik temaram, pada seloka-seloka irisan malam, pada sajak-sajak rohani, pada talibun-talibun empun, tiba-tiba senyap dan lantas menguap makna-makna Indoensia itu bersama serbuk-serbuk kopi, bersama kantuk yang mulai menepi. Tapi, di manakah makna? Makna itu ada pada arwah para pahlawan yang telah rela menyabung nyawa demi kemerdekaan tanah air dan tumpah darahnya.

Nah, peringatan Hari Pahlawan kali ini bertepatan dengan awal bulan Maulid, istimewa tanpa tapi. Baru saja kita rayakan Hari Santri Nasional, Resolusi Jihad, Sumpah Pemuda, dan kini Hari Pahlawan sekaligus Maulid Nabi. Semua itu puisi tanpa tapi, keindahan tak terperi, semua itu debar jantung nyala api, bagi kemanusian dan keindonesiaan yang mulia kehilangan kewarasan dan orientasi.

Dalam hemat saya (yang tidak terlalu hemat), Indonesia sebagai bangsa dan Negara atau negara-bangsa lahir dari puisi dan lantas berdaulat karena puisi. Mana puisinya? Sumpah Pemuda. 

Ya, Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar puitik dan puisi ikrar ini sangat layak dianggap sebagai kristalisasi semangat dan endapan gelora untuk menegaskan cita-cita berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com